Research Highlight

Penelitian Cosmos telah menemukan atau melahirkan beberapa konsep yang menurut kami penting dan menjadi roh pendorong bagi kami, serta menjadi nafas langkah yang menyemangati kami untuk mengoptimalkan pemberdayaan UKM di Indonesia agar berdaya saing di kancah internasional dan menjadi penyedia andalan di negaranya sendiri. Secara singkat yaitu setidaknya mengenai 5 hal yaitu Rantai Nilai UKM, Tahapan UKM, Internet Marketers (Imers), Tahapan IP, dan Kekosongan Peran dalam Inklusivitas di Tempat Kerja.

Rantai Nilai UKM

UKM perlu belajar dan mampu meningkatkan nilai produk karena produk yang tidak diberi peningkatan nilai akan memiliki karakteristik seperti komoditas. Contoh dari komoditas adalah hasil bumi, barang curah, hasil pertanian dan perkebunan yang dikemas seadanya dijual dan dihargai serta merta sesuai dengan kualitas dari barangnya. Barang yang bersifat komoditas tidak cocok menjadi fokus pelaku UKM. UKM perlu bisa menjual pengalaman berbelanja, cerita di balik produk, alasan berbelanja, kecantikan kemasan, dan pernak pernik lainnya. Semakin baik pengalaman yang ditawarkan maka akan semakin baik daya saing pelaku usaha tersebut. Lain halnya dengan produk komoditas yang mana daya saing pelaku usaha sangat bergantung pada jumlah dan kecepatan memasok / mengalirkan barang. Keterampilan mengelola dalam jumlah besar dan kecepatan tinggi biasanya dikuasai oleh usaha padat modal sehingga UKM tidak ideal bersaing dengan cara seperti ini.

Gambar 1 Smile Curve of High Value Activities (Sumber: Gereffi, 2016)

Ada banyak sekali kesempatan untuk meningkatkan nilai produk yaitu dengan bermain di sepanjang rantai nilai produk. Rantai nilai produk dimulai dari R&D, Desain, Pengadaan, Produksi, Distribusi, Pemasaran, dan Layanan purna jual. Sayangnya masih banyak sekali wirausahawan atau UKM yang berfokus pada produksi. Padahal produksi memiliki peningkatan nilai yang paling rendah. Riset ini telah dilakukan oleh Gereffi (2016) dan dirangkum oleh Cosmos pada tautan berikut:

https://centerforsme.freshdesk.com/support/solutions/articles/150000103986-usaha-usaha-peningkatan-nilai-produk

Tahapan UKM

Pertumbuhan UKM yang terus meningkat di Indonesia, Kini terdapat 62 juta Usaha Kecil Menengah di Indonesia, yang berarti ada satu UKM untuk setiap lima orang. Dari jumlah tersebut, 98.75% atau 61,5 juta-nya merupakan usaha mikro yang menunjukkan perkembangan yang baik apabila sejumlah usaha-usaha kecil tersebut menjadi besar dan menjadi penggerak pembangunan negara ini di masa depan. Namun masih banyaknya UKM yang belum memiliki strategi bisnis yang mumpuni di awal. Oleh sebab itu, saat ini sangat dibutuhkan perencanaan yang signifikan untuk membantu meningkatkan skala UKM.

Kategorisasi UKM merupakan aktivitas yang sangat penting dan sangat membantu pihak lain untuk mendukung aktivitas UKM itu sendiri. Dengan adanya pengelompokkan atau kategorisasi UKM, pemilik usaha dapat lebih mudah mengenali posisi UKM. Telah melakukan riset banyak dari pelaku UKM yang belum memahami tujuan usahanya. Bahkan, mereka yang tidak mengetahui potensi usahanya sendiri. 

Dengan panduan yang mengelompokkan UKM berdasarkan tahapan dan karakteristiknya, para pelaku UKM dapat lebih mudah mengenali posisi perkembangan usahanya saat ini. Sesuai dengan yang diperlihatkan oleh Gambar 2, tahapan UKM dirumuskan berupa Newcomer, Artisan, Emerging, Challenger, dan Mainstream. Masing-masing dengan karakteristik situasi dan permasalahan yang khas. Pemahaman situasi dan posisi tahap perkembangan usaha dapat membantu para pelaku UKM untuk mencapai potensi usaha secara maksimal, sedari memulai bisnis hingga menciptakan sistem manajerial dan operasional yang terukur. Penjelasan pengkategorisasian UKM berdasarkan tahapan dan karakteristiknya dapat diakses di tautan berikut:

https://centerforsme.org/indonesias-smes-hold-the-key-to-growth-how-can-they-scale-up/

Gambar 2. Tahapan UKM

Meskipun begitu banyak UKM di indonesia dan banyak pula korporasi yang berusaha memberdayakan UKM, namun setiap korporasi mengumpulkan database masing-masing dan kesulitan untuk membagikan database tersebut karena ada faktor biaya yang sudah dikeluarkan dan harus dipertanggungjawabkan. Cosmos yang merupakan lembaga penelitian not-for-profit mengupayakan agar database yang kami kumpulkan dapat dimanfaatkan oleh pemerhati UKM yang ingin berkontribusi bagi UKM secara tepat. Maka Cosmos secara manual melakukan kurasi terhadap UKM yang siap berkembang dan berkolaborasi. Database UKM dan profilnya dituangkan dalam sebuah website dengan tautan lokalbrand.centerforsme.org yang dapat dilihat cuplikannya pada Gambar 3. Website ini disiapkan untuk memudahkan konsumen mencari produk lokal berkualitas. Melalui lokalbrand.centerforsme.org diharapkan konsumen yang mencari produk lokal indonesia dipermudah mencari informasi yang diinginkan serta juga meningkatkan product awareness kepada masyarakat Indonesia.

Gambar 3. Tampilan Mobile Website Lokal Brand

Internet Marketers

Selain UKM, ternyata ada istilah khusus untuk para pelaku usaha yang meskipun berjualan barang, ternyata pelaku usaha ini tidak fokus pada kepemilikan barangnya namun menjadikan barang sebagai salah satu cara untuk mendapatkan keuntungan. Selain barang, pelaku ini mengambil kesempatan mencetak uang baik dalam bentuk jasa promosi via forum, atau iklan pay per click, dan banyak lagi jenis-jenis fasilitas pemasaran digital yang tersedia. Pengusaha seperti ini disebut sebagai internet marketers. Internet menjadi media untuk mempromosikan sebuah produk yang dimiliki oleh berbagai pelaku usaha. Kini Imers hadir sebagai entitas yang unik dimana memanfaatkan teknologi Internet dengan tujuan meningkatkan jumlah penjualan produk. Imers atau Internet Marketers adalah pelaku usaha atau seseorang yang memulai usahanya dengan mengiklankan produk milik orang lain di internet melalui Google Ads, Facebook Ads dan Email tanpa memanfaatkan marketplace seperti Tokopedia, Shopee, Tiktok Shop.

Pertumbuhan Imers yang pesat dikarenakan meningkatnya penggunaan internet dan ponsel pintar pada era ini. Prospek penjualan yang 3x lebih besar dengan biaya 62% lebih rendah dibandingkan pemasaran tradisional.

Cosmos telah mewawancarai berbagai pelaku Imers dan merumuskan lima tahap perkembangan pelaku Imers dari pemula hingga mahir. Tahap itu diberi nama hit and runner, survivor, pioneer, raising, challenger. Para pelaku Imers dari setiap tahapannya memiliki perbedaan pola pikir, metode produksi barang, ukuran tim, kesadaran finansial, sales channel, kendala, key success factor dan karakteristik. Secara singkat, Imers digambarkan dalam bentuk Infografis sebagai berikut. Secara singkat, Imers digambarkan dalam bentuk Infografis sebagai berikut.

Gambar 4. Infografis Life Stages Imers

Agenda Riset

Di bagian ini, kami menyampaikan hipotesis yang perlu diperdalam melalui riset yang lebih komprehensif yaitu Tahapan IP dan kekosongan peran dalam penerapan Inklusivitas di lingkungan kerja.

Tahapan IP

Perkembangan Kekayaan Intelektual (KI) di Indonesia atau lebih familiar disebut Intellectual Property (IP) terus meningkat dan semakin relevan terutama dalam bentuk KI bidang kreatif.Perputaran ekonomi KI sudah menghasilkan kontribusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia yaitu sebesar Rp 1.105 Triliun atau sekitar 7% dari rata-rata PDB pada tahun 2019, KI juga mampu menyerap 17 juta tenaga kerja dalam setahun, sekaligus menempatkan Indonesia pada posisi ketiga di dunia dalam persentase kontribusi Ekonomi Kreatif berbasis Kekayaan Intelektual terhadap PDB. Hal ini menjadi momentum perkembangan ekonomi kreatif di Indonesia dengan memanfaatkan KI di masa mendatang karena potensi perputaran ekonominya sangat besar.

Tim Cosmos mewawancarai Muhammad Noviar selaku Chief Investment Officer dari Infiacorp. Menurut beliau banyak KI kreatif di Indonesia diciptakan oleh seorang kreator dan memulai mempromosikan karyanya melalui media sosial. Lebih lanjut ia menyatakan bahwa hasil kreasi yang diciptakan para kreator-kreator di Indonesia khususnya yang memang bisa berkembang menjadi cukup banyak hal ketika dimainkan di berbagai medium.

Cosmos melakukan riset sederhana dan merumuskan hipotesis bahwa agar KI kreatif siap bersaing di pasar harus memiliki beberapa profil seperti berikut:

  • Memiliki tribe / fans / komunitas / followers 
  • Memiliki story / culture / narasi
  • Memenuhi The Rule of Seven (7)*
  • Memiliki kemampuan adaptasi untuk berkolaborasi dengan brand lain 
  • Memiliki keunikan
  • Relatable
  • Memiliki reservoir content

Selain itu Cosmos merumuskan tahapan perkembangan KI kreatif ke dalam 6 tingkatan dimana setiap tingkatan memiliki ciri khas masing – masing sebagaimana ditampilkan pada Gambar 5 berikut.

Gambar 5. Tahapan IP

Materi yang lebih detail dan deskriptif mengenai tahapan IP dapat diakses melalui tautan berikut https://centerforsme.org/potensi-kekayaan-intelektual-berbasis-kreatif/

Sebagaimana disampaikan saat membahas UKM, meskipun perkembangan IP di Indonesia sudah semakin meningkat namun belum ada basis data khusus IP yang mendaftarkan IP lokal beserta profil, produk, dan informasi penting lainnya. Oleh karena itu, Cosmos juga menginisiasi pengumpulan database IP lokal dan membuka aksesnya untuk publik melalui website lokalip.centerforsme.org. Melalui website ini diharapkan pemangku kepentingan seperti pemerintah, non-pemerintah maupun swasta dapat dengan mudah mendapatkan informasi terkait pelaku atau pemilik IP.

Kekosongan Peran dalam Penerapan Inklusivitas di Lingkungan Kerja

Inklusivitas menjadi topik yang mulai sering kita dengar baik dalam media sosial maupun dalam kehidupan sehari-hari. Inklusivitas memiliki kata dasar inklusi yang artinya mengikutsertakan. Salah satunya yaitu penyandang disabilitas atau orang berkebutuhan khusus harus diperlakukan secara setara di dunia pendidikan dan dunia kerja. Di dunia ketenagakerjaan, penyandang disabilitas lebih sulit mendapatkan pekerjaan, lebih beresiko mengalami kehilangan pekerjaan.

Mewujudkan inklusivitas di dunia kerja masih menjadi tantangan dalam implementasi di dalam perusahaan. Walaupun sudah sering terdengar dan pemerintah sudah membuat/memiliki regulasi terkait inklusivitas, realita menunjukkan bahwa inklusivitas di lingkungan kerja bagi kalangan disabilitas masih penuh tantangan. Alhasil masih banyak insan disabilitas yang belum terserap oleh industri karena minimnya kesempatan yang disediakan oleh perusahaan penyedia lapangan pekerjaan. Kondisi ini membuat banyak orang atau komunitas yang tergerak hatinya untuk memperjuangkan hak-hak disabilitas dalam mendapatkan pekerjaan yang layak.

Melihat isu tersebut Cosmos mengusulkan skema kerja sama multi pihak yang tidak mengikat namun memiliki peran yang penting dan eksklusif. Pihak yang terlibat adalah Pemerintah, Yayasan/Lembaga Pemberdayaan, Perusahaan penyedia lapangan pekerjaan, Lembaga pemerhati disabilitas (seperti Cosmos), dan calon pekerja disabilitas itu sendiri. Detail mengenai peran setiap pemangku kepentingan dan juga success story penerapan inklusivitas di tempat kerja, dapat dilihat dalam artikel pada tautan berikut:

https://centerforsme.org/lika-liku-mewujudkan-inklusivitas-di-lingkungan-kerja/

Gambar 6. Skema Kerjasama Multipihak untuk Inklusivitas

Referensi:

  1. Gereffi, Gary. 2016. Global Value Chain Analysis: A Primer.