Model Pengembangan IP Kreatif Lokal

Tidak terasa sudah genap satu tahun lalu saya menuangkan pengalaman dan pikiran mengenai pembiayaan untuk creative Intellectual Property. Dalam satu tahun berlangsung, ternyata dunia IP kreatif (creative Intellectual Property) masih sangat menggeliat, potensial dan semakin relevan. Tidak sabar rasanya memberikan update yang pastinya akan sangat menggugah kalian. Singkat aja, saya coba sharing alasan kuat bangkitnya potensi pertumbuhan IP kreatif dari Indonesia.

Saya akan mencoba cerita sedikit tentang “stages of Indonesian IP-based economy”, terutama IP yang tumbuh dan berkembang di sosial media. IP itu bentuknya bermacam-macam, ada paten, trademark, copyright, desain industri dll. Tapi kita tidak sedang membicarakan tentang paten, maupun tentang desain industri. Kita bicara tentang copyright dan trademark, kita bicara tentang hasil kreasi yang diciptakan para kreator-kreator di Indonesia khususnya yang memang bisa berkembang menjadi banyak hal ketika sudah mulai dimainkan di berbagai medium. 

Tapi memang, kalau INFIA awalnya memasang fokus ke IP-IP yang bersifat karakter seperti komik. Jadi sebelum menjadi IP, cikal bakalnya dimulai dari komik di IG yang kemudian berkembang bisa menjadi animasi, bisa juga berkembang menjadi merchandise. Bahkan yang paling advanced perkembangannya seperti tahilalats, itu sudah berkembang menjadi cukup banyak hal, mulai dari cafe, movie, komik strip, merchandise, toko, photo booth dan banyak hal. Jadi intinya, satu IP yang diawali dengan satu produk lalu kemudian bisa di translate ke dalam bentuk bisnis apapun, benar-benar apapun. Karena ketika sudah jadi IP, dia semestinya bisa diterjemahkan ke dalam berbagai bentuk.

Tapi di INFIA sendiri sebetulnya, kita bukan hanya berbicara tentang meng-intellectual-property-kan komik karakter tetapi juga bicara tentang bagaimana menerjemahkan (red:meng-IP-kan) bentuk yang lainnya misalnya media. Media ini ternyata ketika dimotori/ diarahkan dengan benar melalui cara pengelolaan IP yang sudah teruji, maka bisa menjadi satu IP yang kekuatannya cukup oke. Contohnya antara lain infipop yang berkembang dari media dan diarahkan untuk Gen-Z; atau Volix, sebuah media yang dibentuk untuk Gen-Z. Dua IP yang saya sebutkan terakhir itu start awalnya dari media, podcast, news yang kemudian karena kita mainkan dengan management IP yang bagus, dapat berkembang menjadi IP yang punya audiens dan memiliki fans yang cukup kuat. Volix sebagai IP bisa berkembang menjadi berbagai bentuk. Saya yakin IP Volix akan melekat kuat dalam proses mengembangkan menjadi Cafe yang rencananya akan terealisasi tahun depan. 

Bahkan produk semacam event juga memiliki potensi menjadi IP. Seperti contohnya Jakarta Sneaker Day (JSD) yang pada awalnya adalah event lalu event itu kita kembangkan berikut dengan media sehingga menjadi event yang paling besar di Indonesia. Pada saat tulisan ini dibuat, puncaknya adalah pada tahun 2023 ketika dilaksanakan event di ICE BSD dengan visitor mencapai hingga 96 ribu pengunjung, dan diklaim menjadi event sneakers terbesar di Asia Selatan. Uniknya, ketika JSD ini kita perlakukan sebagai IP maka IP tersebut tidak berakhir sebagai event saja, melainkan juga bisa diterjemahkan ke dalam berbagai bentuk medium lainnya. Jadi JSD is not an event anymore, it’s a movement (red:bukan lagi sebuah event tetapi sebuah pergerakan). Meskipun dikenal sebagai event, juga bisa menjadi media, kemudian sebagai merchandise juga oke karena menjadi sesuatu yang akan dicari orang dan pada satu titik juga akan bisa masuk ke dalam placemaking atau bahkan ke dalam bisnis f&b juga. 

Jadi kita bicara tentang satu modal yang intangible yang kita bangun dan disana akan melekat positioning, image, movement dan jadi properti. Semua itu adalah aset yang kemudian kita bisa bangun untuk berbagai macam bisnis dan itu menurut saya menjadi suatu model yang cukup menarik untuk kita kembangkan di Indonesia.

Kenapa kemudian model ini menarik untuk kita kembangkan di Indonesia? 

Karena model pengembangan IP yang baru saya sampaikan itu sesuatu yang ketika hendak kita bangun di Indonesia, ini secara modal tidaklah besar. Modal yang diperlukan jauh lebih kecil dibandingkan model industri IP di media konvensional, jadi alasan kuat utamanya adalah biaya modal yang sangat-sangat murah sehingga lebih accessible secara capital. Asalkan anda memiliki pemikiran kreatif yang bisa diterjemahkan dalam IP itu dan mempunyai persistensi disitu, anda bisa create something.

Apalagi di Indonesia, uniknya adalah ketika kita bicara character based IP, usaha untuk penetrasi market-nya tidak akan semahal yang dilakukan karakter IP dari luar negeri seperti disney atau apapun. Sebuah trend atau model yang umum berlaku di dunia IP adalah ketika ingin memperkenalkan IP kepada publik, biasanya harus mengeluarkan modal yang sangat tinggi, karena jika mau membangun IP mereka harus mempersiapkan banyak hal dan harus berusaha masuk melalui jalur yang memang membutuhkan modal. Contohnya seperti komik dimana mereka harus membuat komik yang konsisten, atau membuat film, membuat series, yang secara modal juga cukup besar, dan semisal modal tersebut dimiliki, model ini malah tidak berhasil diterapkan di Indonesia. Di Indonesia cukup dengan IP yang original sebagai referensi, dan setelah memiliki ide yang cukup oke, kita bisa segera execute dan kita bisa penetrasi melalui sosial media.

Banyak IP berbasis karakter justru berkembang dari sosial media yang secara modal sangat rendah tapi secara monetisasi relatif lebih mudah dieksplorasi karena lahir dari sosial media sehingga ekspektasi terhadap IP itu tidak terlalu tinggi. IP tidak harus menjaga image (red:kesan) IP saat diterapkan ke dalam berbagai macam produk alias lebih bebas. Berbeda dengan disney, marvel, bandai dll yang pada saat dibutuhkan untuk iklan misalnya, hampir tidak mungkin atau sangat jarang kemudian IP-IP luar itu mengiklankan produk yang dirasa tidak relevan seperti pada eksternal harddisk, motor, keripik, dll. Nah tapi karena IP ini di Indonesia, justru relatif lebih fleksibel sesuai karakter tempat lahirnya yaitu dari sosial media. Prosesnya dapat diceritakan dengan mudah, dari sesuatu yang simple, mulai dari hadir di media, lalu mulai mendapat endorse, paid promote, dll. Ketika fanbase-nya sudah muncul maka mulai bisa making money. Jadi secara capital tidak membutuhkan dana yang tinggi, tapi secara monetasi ini justru bisa kita hasilkan dalam waktu yang dekat.

Salah satu sifat dari IP adalah ketika kita bisa menyuburkan si IP ini, cukup banyak potensi yang sebetulnya bisa diidentifikasi. Cikal bakal IP cukup menjamur di Indonesia dan kalau kita fasilitasi melalui perluasan jaringan, pendampingan, pemodalan, dll kita bisa stimulasikan kelahiran lebih banyak IP-IP baru hingga menjadi satu gerakan baru. Sementara dari capital juga tidak terlalu tinggi, tapi secara pemasukan bisa kita hasilkan dalam waktu yang dekat, itu yang pertama.

Bagikan:

Opini Terkait

Lika-Liku Mewujudkan Inklusivitas di Lingkungan Kerja

Inklusivitas menjadi topik yang mulai sering kita dengar baik dalam media sosial maupun dalam kehidupan sehari-hari. Topik ini biasanya sering diutarakan oleh organisasi masyarakat sipil, organisasi non pemerintah juga pemerintah baik di level kementerian, provinsi, maupun pemerintah kota dan pemerintah desa.

Baca Selengkapnya »

Perilaku Pemilik UKM di Indonesia

Perubahan merupakan sesuatu yang selalu menjadi tantangan bagi setiap orang terutama bagi pemilik usaha. Perubahan apabila disikapi secara positif adalah waktu terbukanya kesempatan (opportunity) baru. Namun seringkali perubahan menjadi  beban dan sebisa mungkin dihindari. Sayangnya, menghindari perubahan adalah salah satu perilaku yang sering ditemukan pada pemilik UKM di Indonesia.

Baca Selengkapnya »

Potensi Kekayaan Intelektual berbasis Kreatif

Perkembangan Kekayaan Intelektual (KI) atau lebih familiar disebut Intellectual Property (IP) di Indonesia terus meningkat dan semakin relevan terutama dalam untuk KI bidang kreatif. Namun demikian, penelitian dan tulisan mengenai Kekayaan Intelektual bisa dibilang belum banyak. Hal ini menjadi salah satu indikator bahwa KI kreatif belum mendapatkan perhatian yang cukup sehingga belum dapat menjadi industri yang matang. Oleh karena itu, tulisan ini hendak mencoba berkontribusi dengan memaparkan dan memetakan terkait KI ini.

Baca Selengkapnya »